Inspirasi BaKTI: ”Sistem Administrasi dan Informasi Desa (SAID)
Lembaga Mitra Turatea (LMT) sejak tahun 2007 membangun jaringan komunikasi dan informasi berbasis asset dan potensi warga dan desa (asset basset Approuch). LMT melalui Program Pemberdayaan Masyarakat Miskin dan Perempuan di 113 Desa dan Kelurahan di Kabupaten Jeneponto mulai melakukan pengembangan base line Peringkat Kesejahteraan dan Pemetaan Desa secara komprehenship. Kerja–kerja berbasis warga tersebut menjadi langkah awal menggelitik Pemkab Jeneponto untuk membuka mata mereka terhadap kondisi riil masyarakat Jeneponto.
Secara resmi Pemkab Jeneponto melalui Bupati Jeneponto, DRS. H.Radjamilo, MP merespon positif hal tersebut dan terlibat langsung dalam semua tahapan proses program hingga pada tahapan advokasi program hingga level pusat. Dalam Perjalanan dan Perkembangan Program, LMT terus membangun sinergitas untuk tetap mengembangkan pola pemberdayaan warga berbasis data. Hasil implementasi program di 113 desa/Kelurahan memberikan banyak Lesson Learning terhadap strategi dan upaya membangun kesadaran kritis warga dan pemerintah desa. Salah satu hal yang menjadi fokus adalah mengembangkan Sistem Administrasi dan Informasi Desa berbasis partisipatif dengan merujuk pada Visi “DESA BERDATA, WARGA BERDAYA”.
Menciptakan kondisi Pemerintahan Desa dengan tatakelola pemerintahan lokal yang kuat, demokratis, akuntabel dan transparan serta tetap pada keberpihakannya para orang miskin, kelompok marginal dan perempuan, melalui usaha maksimal dengan memperkuat kapasitas Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM) dan peran strategis Sekretaris Desa. Konsekuensi logis dari cita-cita tersebut adalah pentingnya penguatan data yang akurat dan valid (evidence based approach), di level desa beserta insfrastukur sosial pendukungnya.
Kolaborasi multipihak merupakan kunci dalam proses penguatan kapasitas pemerintahan desa. Karena itulah, memperkuat Kapasitas KPM dan memperkuat eksistensi Sekretaris Desa sebagai penanggung jawab anggaran, pusat data dan ujung tombak pemerintah di tingkat desa dipercaya mampu mempengaruhi kondisi sosial politik desa yang lebih sustainabel utamanya dalam pengawalan dan memastikan proses-proses politik dan perencanaan dan penganggaran di tingkat desa lebih tepat sasaran, tepat anggaran , tepat waktu dan biaya. Desa Berdata, warga Berdaya merupakan konsep kolaborasi melalui kerjasama antar desa dan supradesa yang diwujudkan dalam bentuk sinergisitas melalui perencanaan berbasis data yang diarahkan pada sinergitas pembangunan dalam kawasan disamping tetap memperkuat perencanaan berbasis parsial dalam skala desa. Hal tersebut dimaksudkan agar tercipta proses pembangunan yang lebih holistik, memiliki dampak yang besar serta mendorong terciptanya kerjasama setara secara terbuka, akuntabel,transparan antar desa, sehingga tercipta proses perencanaan dan penganggaran yang lebih adil, memiliki dampak yang luas, meningkatkan kualitas pelayanan publik dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Tidak dipungkiri lagi bahwa sumber kegagalan pembangunan berawal dari kecarut marutan ketersediaan data. Mekanisme pengumpulan data yang dilakukan SKPD seringnya tidak terpusat dan tidak konsisten. Selain itu, belum adanya format baku dalam pelaporan di setiap SKPD yang sesuai dengan kebutuhan data sehingga munculnya data yang tumpang tindih. Serta di sisi non-teknis; permasalahan komitmen SKPD dalam pengelolaan data yang masih kurang.
Pengelolaan informasi dengan pelibatan komunitas merupakan salah satu kunci pembangunan menuju tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Sistem administrasi dan Informasi Desa (SAID) yang berbasis Sosio-spasial ini, pertama kali dikembangkan LMT di Desa Arungkeke, Kecamatan Arungkeke pada tahun 2011, hingga tahun 2013 ini menyusul 10 desa di 3 Kecamatan dalam wilayah Kab. Jeneponto . Sistem tersebut diyakini akan membantu terhadap upaya perwujudan tata kelola pemerintahan yang lebih baik di tingkat desa.
Sistem Administrasi dan Informasi Desa ini tidak hanya menyediakan pelayanan pemerintah kepada masyarakatnya, namun aplikasi ini dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk melakukan Monitoring dan Evaluasi program-program kemiskinan. Berbagai inovasi pendataan dengan mengembangkan pendekatan pendataan partisipatif dengan melibatkan masyarakat, mengembangkan indikator lokal kemiskinan, mendisain sistem infomasi, penyusunan pengelolaan data dan informasi yang berbasis web. Jika melihat perkembangannya, sistem ini berfungsi dengan kokoh didukung oleh dua faktor yakni perangkat manusia dan sosial (orgware) disamping dua faktor lainnya yaitu perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware). Pengembangan sistem infomasi ini memberikan dampak sangat positif dalam menghadapi permasalahan tumpang tindih data serta keakuratan data.
Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (Yayasan BaKTI) Makassar sebagai lembaga yang berfokus pada pertukaran pengetahuan bekerjasama dengan Lembaga Mitra Turatea (LMT), akan mengadakan Diskusi Inspirasi BaKTI dengan topik ”Sistem Administrasi dan Informasi Desa – Desa Berdata,Warga Berdaya”.
Sumber : https://bakti.or.id/kegiatan/inspirasi-bakti-sistem-administrasi-dan-informasi-desa-said




Posting Komentar untuk "Inspirasi BaKTI: ”Sistem Administrasi dan Informasi Desa (SAID)"